Kamis, 16 Februari 2017


MAMA DON’T WORRY – English Translation Lyrics (가사 영어 번역)

My foolish son, who doesn’t really call
How are you doing?
Don’t eat too many chips
Make sure you clean up after yourself
How can you be so similar to your father?
Make sure you sleep well too
You’re such a blue frog, it’s endless
The more I talk, the longer it gets
I mean the same thing, mama loves you

Mother’s heart, father’s heart
Even when they’re far away, it’s always the same
Grandma’s heart, grandpa’s heart
Wherever they are, it’s always the same
 

So mama don’t worry
So mama don’t worry
 

Woo woo

It’s okay that you’re far away Sam
It’s okay even if we don’t see each other often, we’re happy
Because you’re still in our hearts even when we’re apart
Don’t worry about us, be happy
Don’t cry

Seoul night, a night across the ocean
Even if you’re far away, we’re happy
Missing you tonight, wondering about you tonight
Wherever you are, we’re happy

So mama don’t worry
So mama don’t worry

My foolish mom, who doesn’t call often
Your son is doing well
I’ve gotten really busy these days
I’m working hard, I’m writing songs
I’m eating all three meals
So don’t worry about me mom
Please be healthy and look after my siblings
Don’t worry about me mom
Even if it’s hard, just wait a little for me

Lyrics from – http://popgasa.com





MAMA DON’T WORRY – Hangul Pronunciation / Romanization (가사 발음 / 로마자)

yŏl-lak-to jal ran ha-nŭn
mŏng-ch’ŏng-han u-ri a-dŭl chal chi-nae-ni
kwa-ja jom mŏk-chi mal-go
ch’ŏng-so ttok-pa-ro ha-go
ŏ-ttŏ-k’e ni a-ppa-ha-go
kŭ-rŏ-k’e ttok-kan-ni
cham-do je-dae-ro ja-go ch’ŏng-gae-gu-ri
nŏ a-i-go kkŭ-ch’i ŏm-ne
ma-rŭn hal-su-rok ki-rŏ-jil-su-rok
ta ttok-ka-t’ŭn mal rŏm-man nŏl sa-rang-hae

ŏm-ma-ŭi mam a-ppa-ŭi mam
mŏl-li i-sŏ-do da ttok-ka-t’ae
hal-mŏ-ni-ŭi mam ha-ra-bŏ-ji-ŭi mam
ŏ-di i-sŏ-do da ttok-ka-t’ae

So mama don’t worry
So mama don’t worry


Woo woo

mŏl-li in-nŭn ‘gŏt sang-gwan-ŏp-sŏ SAM
cha-ju mot pwa-do sang-gwan-ŏp-sŏ u-rin haeng-bo-k’ae
ttŏ-rŏ-jyŏ i-sŏ-do ma-ŭm-so-ge i-sŭ-ni
u-ri gŏk-chŏng mal-go haeng-bo-k’a-ge sal-go
chŏl-tae ul-chi mal-go

sŏ-u-rŭi bam ba-da gŏn-nŏ-ŭi bam
mŏl-li i-sŏ-do u-rin haeng-bo-k’ae
po-go shi-p’ŭn bam mo-du gung-gŭm-han bam
ŏ-di i-sŏ-do u-rin haeng-bo-k’ae

So mama don’t worry
So mama don’t worry

yŏl-lak-to jal ran ha-nŭn
mŏng-ch’ŏng-han ŏm-ma a-dŭl chal chi-nae-yo
yo-jŭ-mŭn hal ri-ri ma-ni saeng-gyŏt-chyo
yŏl-shim-hi ha-go gok-to ssŭ-go
pap-to se-kki da ch’aeng-gyŏ-mŏ-kŭ-ni
chŏ-nŭn ‘gŏk-chŏng mal-go ŏm-ma
kŏn-‘gang-ha-go dong-saeng-dŭl ch’aeng-gyŏ-yo
chŏ-nŭn ‘gŏk-chŏng mal-go ŏm-ma
him-dŭ-rŏ-do jo-gŭm-man ‘gi-da-ryŏ-yo









MAMA DON’T WORRY – Korean Lyrics (한글 가사)

연락도 잘 안 하는
멍청한 우리 아들 잘 지내니
과자 좀 먹지 말고
청소 똑바로 하고
어떻게 니 아빠하고
그렇게 똑같니
잠도 제대로 자고 청개구리
너 아이고 끝이 없네
말은 할수록 길어질수록
다 똑같은 말 엄만 널 사랑해

엄마의 맘 아빠의 맘
멀리 있어도 다 똑같애
할머니의 맘 할아버지의 맘
어디 있어도 다 똑같애

So mama don’t worry
So mama don’t worry

Woo woo

멀리 있는 것 상관없어 샘
자주 못 봐도 상관없어 우린 행복해
떨어져 있어도 마음속에 있으니
우리 걱정 말고 행복하게 살고
절대 울지 말고

서울의 밤 바다 건너의 밤
멀리 있어도 우린 행복해
보고 싶은 밤 모두 궁금한 밤
어디 있어도 우린 행복해

So mama don’t worry
So mama don’t worry

연락도 잘 안 하는
멍청한 엄마 아들 잘 지내요
요즘은 할 일이 많이 생겼죠
열심히 하고 곡도 쓰고
밥도 세끼 다 챙겨먹으니
저는 걱정 말고 엄마
건강하고 동생들 챙겨요
저는 걱정 말고 엄마
힘들어도 조금만 기다려요













Kamis, 02 Juni 2016

Yang Telah...

Pagi ini ku kayuh sepedaku dengan sedikit rasa enggan. Pagi dengan suasana sayupnya membuat rasa rindu ini tak tertahankan. Entah setiap kali suasana pagi seperti pagi hari ini rasa gundah itu muncul tiba-tiba. Pagi dengan sisa-sisa hujan tadi malam. Meninggalkan embun yang menempel diatas pepohonan dan sesekali menetesi saat aku lewat dibawahnya. Dan kabut-kabut menyelimuti jalan. Aku melewati kabut dengan syahdu, sayup dan dalam. Sejenak kenangan masa-masa dahulu kala menyeruak memenuhi pikiran. Terbayang-bayang masa kecil. Terbayang masa ABG. Terkenang masa jahiliyah. Uppss...semua adalah kenangan yang menggoda. Dan ku pastikan semua adalah kenangan. 
Aku bersyukur padaMu
Yang telah meneguhkan langkahku
Yang telah memilih diriku untuk menghamba padaMu
Yang telah mengistiqomahkan aku hingga detik ini
Yang telah memperkenalkan dakwah padaku
Yang telah menjagaku dari setiap helai kemaksiatan
Yang telah menghijabiku dari godaan hati
Yang telah meluruskan aku dari kebelokan 
Yang telah menjagaku saat masa kefuturan
Yang telah menasihatiku lewat banyak ujian
Yang telah memberikan kesempatana menjadi lebih baik
Yang telah memberiku segalanya yang tak kuminta....
Engkau Maha Segalanya
Allah Maha Segalanya...

Minggu, 25 Oktober 2015

25.10.2015

Hari ini adalah penentuan. 
25.10.2015

Semakin banyak tahu maka semakin bersar tanggung jawab yang kamu pegang. Semakin banyak tahu maka semakin besar beban yang ditanggung. Semakin banyak tahu maka harus banyak belajar memahami. 

Selasa, 02 Juni 2015

Malam Belum Usai

Malam ini dingin terasakan oleh kulit
Sisa hujan tadi  siang menyisakan embun-embun yang siap menyelimuti malam
Siap mendinginkan sayup malam
Membuat malam lebih terdiam
Malam begitu hanyut
Malam terasa seperti layaknya malam seharusnya
Sunyi. Senyap. Damai. Tenang.
Bukan seperti malam biasanya
Gemerlap. Terang. Gaduh.
Kali ini memang benar-benar malam yang menjadi kenangan
Bagi sedikit manusia seperti itu.

Malam ini tetap hampa
Jangkrik pun enggan berderik
Katak enggan bersorak menikmati sisa hujan
Manusia enggan pula berkeliaran menyapa malam
Kopi lebih mereka sukai
Selimut lebih terasa nyaman
Rumah lebih menarik perhatian
Entah malam kini terselimuti senyap
Dipeluk oleh kehampaan
Memandangi kekosongan
Berdampingan dengan kesunyian
Ditemani oleh ketenangan

Sunyi senyap
Hanya aku yang terdiam di dalam kurung kamar
Terjaga oleh hati yang gundah
Mencoba mengerti kata2 malam ini dengan baik
Tanpa melibatkan prasangka dan ego
Ya. Samua benar dan menyadari bahwa ego ini masih ikut campur
Malam pun ikut campur
Menghadirkan suasana pelik

Selasa, 28 April 2015

Menangislah...

Sinar terik kemarin telah terhapus oleh hujan tadi malam. Ternyata tak perlu menghujat panas, hanya perlu berdoa minta hujan. Betapa Allah Maha Segala Sesuatu.
Pagi ini redup tak seperti biasanya. Awan mulai melindungi bumi dari sinar matahari. Mereka dikuatkan oleh titik-titik air yang bergerombol yang berasal dari evaporasi di bumi. Cantik sekali pagi ini. Pagi pertama dimusim hujan. 

Aku melangkah untuk segera keluar rumah. Rumah yang insyaa Allah diberkahi, karena banyak penghafal alqur'an disini. Rumah yang insyaa Allah menjadi tempat tinggalku sementara ini. Tiba-tiba kaki ku berhenti. Pikiranku dipenuhi dengan rumah dan wajah ayah dan ibuku. Seketika itu dada ini sesak. Tak karuan rasanya. Kangen tapi tak bisa meluapkan kekangenan, sedih karena tak bisa bertemu, bingung jika bertemu dalam keadaan belum selesai studi, tak tega melihat mereka bekerja sangat keras, tak tega melihat mereka lelah, tak sanggup melihat mereka tersenyum manis, tak sanggup mendekap dipangkuan mereka dan berkata maaf. 

Aku mematikan motorku. Segera ku ambil HP di saku dan SMS rumah. Dan respon ibuku cepat sekali. Mungkinkah dia tau perasaan yang berkecamuk ini? Mungkinkah ibu merasakan hal yang sama?. Tiba-tiba air mata ini menetes tanpa seizinku. Langsung aku kenakan masker untuk menutupi perasaanku. Lalu aku start motorku dan melaju disepanjang jalan dengan air mata yang tak sanggup aku hentikan. Melankolis. Redup. Sayup. Aku merasa pagi ini aku ingin meluapkan tangisku sejadi-jadinya. Tak ku pikirkan orang-orang disampingku yang mendengar isak tangisku. Air mata ini sungguh tak mau berhenti. Aku tetap melaju motorku dengan tangis yang senyap disepanjang jalan. Tapi entah aku menikmatinya. Rasa sesak mulai menghilang. Aku mulai tenang. Menikmati perjalanan ke kampusku kembali dengan mengusap-usap sisa-sisa air mata di wajahku. 


12.10.2014

EMOSI

Kali ini tentang emosi...
Suaramu entah membuatku menyingkir
Derap langkahmu membuatku tertelungkup lebih dalam
Permintaaan mu entah membuat sendi kaku bergerak
Candamu entah terasa nyeri tersakiti
Senyummu entah buat aku skeptis

Hilangkan kepercayaan itu
Lenyapkan senyuman
Musnahkan harapan pengorbanan
Senyapkan canda riang
Nihilkan kedekatan

Ada kedengkian disana..
Ada minim ma''rifat disana..
Ada defisit harapan disana...
Ada luka disana...

Ada lebam hati disana... 

01.09.2014

Pergi

Aku tau. Aku, kamu, dia, dan kita akan segera pergi ke kehidupan masing-masing. Mengejar impian kita masing-masing. Apalagi di usia-usia kita seperti ini. Terselesaikannya amanah kuliah dan lembaga membuat kita tak ada lagi kewajiban untuk kita masih bertahan disini bersama. Semua telah menanti sentuhan tangan dakwah kita. Rumah, masyarakat, dan pekerjaan.

Aku paham. Bahwa pergi adalah berat. Meninggalkan kota yang beberapa tahun ini menjadi tanah berpijak. Meninggalkan teman-teman yang menjadi kenyamanan dan kebiasaan bersandar.

Aku pun sadar. Kita telah sibuk dengan masing-masing impian. Saling mengejar impian. Dan aku yakin sedikit demi sedikit kita akan bergerak untuk mencapai impian kita masing-masing. Aku takkan menahanmu teman. Aku akan selalu mendukungmu. Mendukung setiap keputusan hidupmu. Biarpun keputusan itu memisahkan jarak kita, aku akan tetap mendukungmu. Karena itu yang bisa aku lakukan untukmu agar engkau mampu mewujudkan apa yang kau citakan. Jika kita terus bersama maka aku akan terus mendzolimi tangan-tangan yang membutuhkanmu.

Ya. Aku takkan menahanmu. Aku akan selalu mendukungmu. Jika aku menahanmu itu akan menyulitkanmu untuk berpisah denganku. Karena aku tahu, setiap perpisahan dan perpindahan itu berat. Berpisah dan meninggalkan apa yang kita cintai adalah pekerjaan yang sulit.

Aku hanya bisa percaya bahwa kelak kita akan bertemu dalam suasana yang lebih indah dan saling menatap haru. Kelak, ketika kehidupan telah berlanjut, ketika impian kita telah terwujudkan, kita akan bertemu berkumpul dan bercerita seperti dulu.

Aku belajar bahwa pertemanan tak berarti harus dekat dan bersama. Pertemanan adalah saling mendukung dan menguatkan. Dikemudian hari nanti, kita akan berdiri dengan impian masing-masing. Berjuanglah mengejar impian.....

Aku pun sadar. Bahwa aku juga pergi...

Sampai nanti teman...


Selasa, 27 Januari 2015

antara kataku dan katamu



"Aku ingin pergi hari ini" kataku
"Aku melihat engkau tak ingin" katamu
"Entahlah, kaki ini tak ingin pergi. Hati ini masih duduk bertahan" kataku
"Manusia memang seperti itu. Plin plan." katamu

Kasur tergulung amburadul, terjerat oleh tali dengan paksa
buku tertutup berjejal di kardus, semena-mena
Baju-baju tertata malas dikoper
Kipas masih berputar
Jam masih berjalan
Murotal masih tersetel
Tak ada tanda-tanda
bahwa kepergian segera terjadwal

Hati senantiasa menggerutu, apa yang manusia ini pikirkan
"Kaki enggan melangkah, tangan enggan berbenah
Sudah jelas jelas tak ingin pergi kenapa masih ngotot pergi?
Dasar manusia" katamu
"karena pergi adalah perpisahan" kataku
"Bukankah dengan pertemuan harus siap dengan perpisahan?" katamu
"tak bolehkan ada pertemuan tanpa perpisahan?" kataku
"Terserahlah apa katamu" katamu
"baiklah...aku telah memutuskan..
aku tak ingin pergi" kataku.
"kan ku buat pertemuan kita tak ada perpisahan" kataku

"kamu tak mendengar? Kan ku buat pertemuan kita tak ada perpisahan" kataku lagi

"aku tegaskan, pertemuan kita tak kan ada perpisahan" kataku lagi

"terimakasih" katamu.



Selasa, 13 Januari 2015

Pergi

Catatan ini diambil dari tumblrnya Kurniawan Gunadi di http://kurniawangunadi.tumblr.com/ Bismillah.......

Aku, kita, dan setiap teman kita akan pergi. Pergi ke kehidupannya masing-masing dan mewujudkan impiannya. Apalagi diusia-usia seperti ini. Satu per satu teman pergi entah kemana, bahkan hilang kabarnya.
Aku paham. Aku pun pergi. Meninggalkan kota yang beberapa tahun ini ku tinggali. Bahkan meninggalkan teman-teman dan kenyamanan yang ada di sana.
Aku mengerti. Setiap dari kita sedang sibuk dalam hidupnya. Setiap dari kita sedang berusaha keras mencapai impiannya. Sedang menekuni jalan hidupnya masing-masing. Aku hanya mendapat kabar dari teman yang lain atau dari laman media sosialnya. Bahwa satu-per-satu teman sedikit demi sedikit telah bergerak pasti ke arah impiannya.
Aku memahami. Bila teman-temanku kini sibuk bahkan pergi satu persatu. Aku tidak akan menahannya, aku akan mendukungnya. Mendukungnya untuk pergi ke kehidupannya dan mewujudkan apa yang telah menjadi citanya.
Aku merasakan yang demikian. Dukungan dari teman-teman yang akan membuat langkah pergi itu menjadi semakin kuat, menjadi semakin teguh. Karena aku tahu, setiap perpindahan itu berat. Meninggalkan sesuatu yang dicintai, nyaman, apalagi teman adalah sebuah pekerjaan yang sulit.
Tapi, demi kehidupannya, aku akan mendukungnya untuk memantapkan langkah kakinya. Mungkin, kita tidak akan bertemu untuk sekian lama, mungkin pula komunikasi kita akan terputus seiring kesibukan.
Aku hanya percaya bahwa kelak kita semua akan kembali bertemu. Bertemu dalam suasana haru dan saling menatap tak percaya atas apa yang telah kita raih bersama.
Kelak, ketika kehidupan itu telah tertanam kuat pondasinya. Ketika impian itu telah menjadi kenyataan. Kita akan kembali berkumpul dan saling bercerita. Anak-anak kita akan menjadi teman sebagaimana pertemanan kita hari ini.
Kini, mungkin kita semua akan kehilangan teman satu persatu. Tapi, kehilangan itu akan digantikan suatu hari nanti.
Aku menjadi belajar. Bila temanku kini akan pergi ke kehidupan dan impiannya. Aku tidak akan menahannya. Pertemanan bukan berarti harus selalu dekat dan bersama. Pertemanan itu saling mendukung dan menguatkan. Itu yang akan menjadi bekal silaturahmi kelak dikemudian hari. Kala cerita hidup kita akan kita saksikan dan kita semua bisa berdiri tegap dengan impiannya masing-masing. Hari ini, berusaha keraslah. Pergilah ke impian dan kehidupan itu. Kemanapun langkah itu pergi. Tidak akan ada yang menahan, aku akan mendukungmu.
Sampai bertemu kembali ditahun-tahun tak terduga nantinya.

Senin, 05 Januari 2015

Rehat- La Tahzan


Jangan bersedih karena hidup miskin, karena masih banya orang di
sekitar Anda yang hidup dililit hutang! Jangan bersedih karena tak punya
mobil, sebab masih banyak orang di sekitar Anda yang kakinya buntung.
Jangan bersedih karena suatu penyakit, karenan masih banyak orang selain
Anda yang mungkin telah bertahun-tahun tergolek lemas di atas ranjang.
Jangan bersedih karena kehilangan seorang anak, sebab Anda bukan satusatunya
orang yang kehilangan anaknya.

Jangan bersedih, bila Anda memang seorang muslim yang beriman
kepada Allah, para rasul-Nya, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Hari Kiamat
dan qadha' serta qadar yang baik dan yang buruk! Karena, masih banyak
orang kafir yang mengingkari Allah, mendustakan rasul-rasul-Nya,
memutarbalikkan makna al-Qur'an, dan tak mempercai Hari Kiamat, serta
ingkar terhadap qadha' dan qadar.

Jangan bersedih! Kalau memang Anda tak sengaja telah berbuat dosa,
cepatlah bertobat; kalau Anda telah melakukan kejahatan, mintalah
ampunan-Nya; dan kalau Anda telah melakukan satu kesalahan, perbaikilah
kesalahan itu. Bagaimanapun, rahmat dan kasih sayang Allah itu tak
terhingga luasnya, pintu ampunan-Nya selalu terbuka dan ampunan-Nya
senantiasa melimpah ruah.

Jangan bersedih, karena kesedihan hanya akan menyebabkan syaraf
cepat letih, jiwa mudah tergoncang, hati menjadi lemah, dan pikiran tak
tak terarah.

Seorang penyair berkata,
Mungkin saja seseorang merasa terhimpit cobaan,
karena tak sadar bahwajalan keluar ad a di tangan Sang Pencipta
Kola kesesakan semakain berat terasa, dan semua lingkaran
terbuka, ia akan melihat apa yang tak pernah terbayang olehnya.

Sabtu, 03 Januari 2015

Mozaik Kehidupan Sepasang Insan*

Aku ceritakan sebuah mozaik kehidupan sepasang insan. Berkenalan disebuah acara untuk mahasiswa baru yang dihadiri keduanya. Kedua mata tak sengaja beradu pandang. Semilir angin sejenak datang disela-sela hati. Sekejap kemudian saling menunduk. Entah malu dan  gugup jadi campur aduk tak karuan. Menunduk menjadi pilihan. Menunduk mengumpulkan kekuatan untuk berani melawan nafsu yang berantakan. Menunduk merenungi hati yang sedikit kelimpungan. Menunduk berpikir apa yang selanjutnya ia lakukan. Menunduk menata hati dan pikiran agar sejalan.

Keduanya berantakan. Butuh waktu lama untuk hati menjadi seperti semula. Mereka mulai memahami bahwa menghilangkan noda ternyata tak segampang yang dipahami. Butuh sekian hari untuk memulihkan kembali. Ya. Mereka menyadari itu. Maka dari itu masing-masing insan mulai dengan pertahanannya. Dan keduanya memilih pertahanan menghindar. Menghindar untuk berinteraksi langsung ataupun tak langsung. Menghindar untuk berada diforum yang sama. Menghindar untuk saling bertanya. keduanya menyadari bahwa  masing-masing telah sengaja menjauh. Tapi kedua insan tersebut masih menjaga saling berkomunikasi walau sangat jarang sekali. Masih saling bersapa saat bertemu. Masih saling bertebar salam walau jarang berpapasan. Tapi kesan menghindar tak kan menghilang.

Kedua insan tersebut telah pintar mengambil peran. Keduanya semakin lihai dalam manajemen perasaan. Gugup yang dulu terasa menyakitkan kini keduanya lihai mempermainkan. Membiarkan gugup tetap bergetar asal sesuai koridornya. Mata yang dulu berpandang lentik padanya, kini mulai mudah menjinakkannya. Hati yang dulu bergetar ingin segera menghindar, kini mulai sadar bahwa silaturahim lebih diutamakan. Biarlah hati bergetar karena itu adalah tanda sikap malu yang menawan.

Kedua insan telah memahami bahwa hati memang tak bisa dibohongi. Mereka mmebiarkan perasaan itu mengalir perlahan tanpa memberikannya arus. Membiarkan angin yang menjadi nahkodanya. Membiarkan angin membawanya tanpa mereka sadari.

Entah, perasaan itu telah menempuh perjalanan berapa lama  hingga saat ini. Keduanya mulai melupakan. Mulai terbiasa kembali seperti sejak pertemuan mula. Hati mulai sedikit tertata. Tak perlu menghindar lagi rasanya. Keduanya telah memutuskan saling berinteraksi kembali. Namun kedua insan tersebut belum menyadari bahwa endapan bisa mengalir akibat dari gesekan-gesekan bertubi-tubi. Endapan akan membuat keruh aliran. Jika semakin lama mengendap dan delta yang tercipta semakin banyak maka aliran akan semakin keruh. Begitu juga hati, jika pernah merasakan dan menjadi endapan perasaan maka waktu yang akan menjadi lawannya. Dan waktu pula yang akan menjawabnya.

Kita nantikan saja episode hati  yang akan mereka ciptakan selanjutnya. Apakah memang telah takdir dariNya atau memang hiasan hati belaka?




*dari curhatan seorang sobat :)

Hakikat Ulang Tahun

Ulang tahun
Sejatinya umur hidup kita semakin berkurang
Jatah hidup kita semakin sedikit, masa berjaya kita semakin menipis, semakin dekat dengan hari-D, selangkah lebih sekat dengan kematian.

Hakikatnya kulit kita mendekati penuaan. Memori kita semakin terbatas. Langkah kita semakin sempit. Lambung semakin enggan mencerna. Gigi semakin pudar kekuatannya.

Sebenarnya ulang tahun itu, sebagai pengingat sajalah...
Bahwa sebenarnya kita mendekati masanya. Semakin tambah umur semoga semakin berkah...
Semakin mengerti...
Semakin paham...
Karena maut tak pernah bergeser dari tanggal ketetapanNya.

ennysurya at 06/09/2014 6:06
Cemani.




Rabu, 03 Desember 2014

di suatu keramaian

Merasa menjauh
Seruan angin menelisik telinga
Aku layu.
Meleleh. Terbius. Entahlah...
Didepanku matanya sumringah...
Wajahnya semburat senyum khas
Suaranya menyibak angin hingga resonansinya menggetarkan ku
Sapanya begitu saja terdengar merdu
Seolah pita suara hendak mendukung...

Selalu saja seperti itu..
Aku selalu hapal cara sapaannya
Mimik mukanya
Gerak tangannya
Alunan mulutnya
Tapi itulah caranya yang membuatku rindu...

Canggung...bergetar...salah pandang...
Salah ucap...
Salah gerak...
Tapi pelukan mencairkan semua :)



ennysurya @suatu sore bertemu dgn sahabat lama yg sebenarnya baru.

Tafrid fii 'amaly wa yaumi

    Segi bahasa mengurangi kecerobohan, keteledoran, menyia-nyiakan tugas ibadah sebagai muslim.
    Sebab-sebab:
    • Tercemar dalam dosa
    • Berlebihan dalam hal mubah
    • Tidak mengetahui nilai-nilai kenikmatan
      • Melupakan nikmat yang diberikan Allah
      • Lupa bersyukur
      • QS. Ibrahim : 152
      • QS. Ibrahim : 34
    • Ghoflah (lalai) memahami urgensi amalan-amalan siang dan malam
    • Lemahnya wawasan terhadap urgensi pahala
    • Lupa terhadap mati dan sesudahnya
    • Merasa dirinya sudah sempurna dalam amalan ibadah
    • Terlalu banyak beban dan kewajiban
    • Menunda-nunda target ibadah
    • Melihat orang yang tafrid (orang yang teledor)

    Dampak negatif tafrid
    • Ketidaktentraman hati
    • Berhenti melakukan kewajiban atau mengurangi sunnah rasul
    • Berani berbuat dosa
    • Lemahnya fisik dan muncul penyakit baru (ruhiyah turun dan menyebabkan fisik turun)
    • Diharamkan dari pertolongan Allah
    • Kehilangan wibawa dihadapan Allah dan manusia

    Beberapa terapi menghilangkan tafrid
    • Kembali kepada alquran dan assunnah
      • Membaca alquran diagendakan, bukan hanya mengisi waktu luang
      • Menelaah hadits
    • Membebaskan diri dari maksiat
    • Mengurangi hal-hal yang mubah agar tidak mnegurangi waktu ibadah
    • Menghargai nikmat Allah sekecil apapun
    • Memahami peran hati dalam hidup
    • Berusaha mneyeimbangkan aktivitas
    • Berusaha memerangi diri -> memaksa diri untuk menghindari maksiyat dengan meningkatkan ketaqwaan
    • Memperhitungkan dampak negatif tafrid terhadap diri kita.
    • Selalu hidup berjamaah dan berkumpul dengan orang shaleh
    • Memohon pertolongan Allah






Keep On Mission :)

Lingkaran ini adalah kita

Hujan rintik mengantar kita pada pertemuan kali ini
Tetap erat  mendekat
Tangan-tangan berpegangan erat
Semakin erat melekat
Rabithah sebagai pengikat perpisahan
Ya.
Lingkaran ini tak kan berhenti meskipun hujan berbondong menghalangi
Ya. Lingkaran ini tetap melingkar meskipun petir melecut menyambar
Ya. Lingkaran ini walau kadang tak sempurna bulat tapi bukan menjadi halangan untuk tetap bernasihat

lingkaran ini adalah lentera
Penyulut semangat untuk sepekan
Lingkaran ini adalah suplemen
Pemberi nutrisi jiwa
Lingkaran ini adalah lilin
Pemberi cahaya atas gelapnya hati
Lingkaran ini adalah kita
Semangat bernasihat untuk mencahayakan hati.




ennysurya at 27/11/2014 20:42


Minggu, 02 November 2014

Humor Sufi

Api 

Hari  Jum`at  itu,  Nasrudin  menjadi  imam  Shalat  Jum`at.  Namun  belum  lama  ia berkhutbah, dilihatnya para jamaah terkantuk-kantuk,  dan bahkan sebagian tertidur dengan lelap. Maka berteriaklah Sang Mullah,

 "Api ! Api ! Api !"

Segera saja, seisi masjid terbangun, membelalak dengan pandangan kaget, menoleh kiri-kanan. Sebagian ada yang langsung bertanya,

"Dimana apinya, Mullah ?"

Nasrudin meneruskan khutbahnya, seolah tak acuh pada yang bertanya, "Api yang dahsyat di neraka, bagi mereka yang lalai dalam beribadah.




Rabu, 29 Oktober 2014

Engkau Maha Tahu Segalanya

Aku mengerti Engkau yang memilikiku sepenuhnya.  Tak kuragukan itu. Aku percaya itu. Engkau yang mengerti aku sepenuhnya. Tak ada yang terlewatkan. Bahkan keinginan dalam hati yang baru saja aku pikirkan telah Engkau jawab.  Baru terlintas begitu saja saat perjalanan pulang ke asramaMu, Engkau telah membukakan jalan.  Secepat itu Engkau merespon hambaMu ini.
Malam ini hati ini menjadi saksi betapa Engkau memiliki seluruh dunia ini. Hati yang terselubung pun tak luput dari perhatianMu.
Malam ini kaki-kaki bersilang untuk menyuro'kan evaluasi bulanan. Semua sudah berjalan ketika aku tiba dipintu. Seperti biasa yang putra berada di ujung kiri dan putri di ujung kanan. Aku melipir masuk rumah lewat jalan sebelah. Alasanku sebenarnya tidak ingin mengganggu mereka dengan kedatanganku plus ada perasaan tidak ingin bertemu mereka sebenarnya. Ada rasa kurang berkenan berada di lingkaran mereka. Seperti ini bukan jalanku atau merasa bahwa ada aku atau tidak sepetinya tidak apa-apa. Kalau kata aa gym, aku masuk kategori manusia sunnah sepertinya, ada atau tidaknya tidak diperhitungkan. Nyesek? Iiyaa...begitulah.
Aku masih berada dikamar beres-beres barang dan segera meluncur di pertemuan itu.
Tiap orang dievaluasi keberjalanan amanahnya. Aku? Ya pasti juga masuk hitungan. Aku duduk dekat dengan ketua putri. Menjadi yang terakhir terevaluasi. Dan ketika tiba waktuku dievaluasi, ada beberapa orang yang pergi ijin mendahului ada kepentingan dirumah. Aku berpikir sepertinya Engkau  akan memberitahuku sesuatu berita besar ya Allah. Engkau tidak ingin aib ku terbuka didepan banyak orang. Oke, dan aku? Siap mendengarkan evaluasi. Aku mendengarkan dengan saksama. Diam mencermati tiap kata dan sikap orang-orang saat aku dipertanyakan. Intinya aku harus memilih mana? Kampus atau asrama? Komposisi antara kampus dan asrama yang tidak seimbang. Akad yang dulu disepakati  hanya satu hari off ternyata aku berhari-hari off.  Akad yang dulu disepakati ternyata tak terjalankan lagi. Beliau menjelasakn dengan hati-hati tanpa menyakitiku. Aku tau makna tersiratnya. Aku tau kandungan ucapan itu. Aku tau. Ya. Aku tau. Tapi entah aku tak berani menyebutkan  kata-kata yang ada dipikiranku. Aku tidak seberani yang lain yang menyatakan dengan jahr apa yang dirasakan. Ada satu kata kunci yang sebenarnya ingin beliau dan aku tak berani menyebutnya, yakni keluar. Kita sama-sama orang jawa tulen yang menjunjung tinggi bahasa pragmatik. Semua yang beliau sampaikan adalah tinggal atau keluar. Itu pilihan. Aku benar-benar tak berani menyampaikan. Aku bingung hingga akhirnya wajahku yang linglung itu terbaca oleh penyimak disekeliling kami. Waktu 2 hari menjadi jatahku berpikir untuk berada disini.
Aku masih duduk bersila. Tangan ketua putri menyentuhku dengan lembut. Pertanda simpati padaku. Aku tangkap diwajahnya begiu berat menyampaikan hingga lidah kelu dan hanya tangan yang bisa menyampaikannya. Aku merasa bersalah pada situasi seperti ini. Semua diam. Hening. Hanya aku yang terdengar gamang berbicara sepatah-patah.

Dalam hati, aku takjub padaMu. Engkau begitu cepat membuka jalan untuk aku berfokus diri. Apa ini pertanda dariMu? Istikharah sepertinya menjadi jalanku untuk mencari ridhoMu.

Berilah yang terbaik ya Allah.  

Senin, 13 Oktober 2014

sahabat hari ini

Sahabat...
Sungguh hanya engkau yang benar-benar tau diriku
Sungguh hanya engkau yang tau isi hatiku walau aku tak bicara
Sungguh hanya engkau yang tau warnaku walau aku tak menampakkannya
Sungguh hanya engkau yang tau kegelisahanku walau aku hanya terdiam
Sungguh hanya engkau yang tau diamku walau aku tersenyum
sungguh hanya engkau yang tau laguku walau aku hanya bergumam
sungguh hanya engkau yang tau sakitku walau aku tertawa
sungguh hanya engkau yang tau rendahku walau aku selalu berdiri
sungguh hanya engkau yang tau topengku walau aku bersembunyi
sungguh hanya engkau yang tau goyahku walau aku tetap tegak
sungguh hanya engkau yang tau hitamku walau aku bernampak putih

tapi... engkau hanya diam
engkau lebih suka diam
tengkau pergi
engkau pergi tak terlihat lagi
engkau menghindar
engkau menghindariku
engkau sebatas engkau disampingku
engkau dan aku telah berbatas
engkau dan aku telah sendiri
tak bersama walau terlihat bersama

engkau tau sikapku tapi ku kira engkau mengerti dan memahami
tapi... aku salah.

oh bukan. semoga aku salah tentang ini. semoga kita kemali bersama dan tetap bersama

Minggu, 12 Oktober 2014

Teruntuk : Ayahku

Setiap tetes keringatmu
Setiap hembusan lelah nafasmu
dipenuhi kasih sayang tak henti
Demi aku, kau rela berpayah diterik matahari
Hujan pun tak dapat membatasi mu 
untuk aku anakmu...
Di setiap doamu kau haturkan segenap harapan

Ayah...
Kan ku jaga mimpimu
Yang telah kau tularkan padaku
Kan ku lakukan semampuku untuk membalasmu
Atas pengorbanan yang kau berikan padaku
Aku tahu....
engkau tetap bekerja walau matahari mencoba melemahkanmu
aku tahu...
engkau tetap bekerja dan mengorbankan kesenangan yang harusnya menjadi hakmu di umur emas mu...
engkau bekerja dan bahkan mengorbankan mimpimu yang menjadi hidupmu dulu
engkau teguh bekerja dan mengorbankan waktu bersantaimu yang harusnya engkau dapatkan dimasa senjamu
tapi...
engkau berkata dan tersenyum, “bekerja untukmu adalah kesenanganku, apalagi yang bisa menyenangkanku selain melihatmu?”
engkau masih tersenyum, “bekerja untukmu adalah mimpiku, engkau adalah mimpiku...”
engkau tetap tersenyum, “bekerja untukmu adalah waktu santaiku, engkau menjadi penenang dalam masa senjaku...”

Ayah.....
Kasih sayangmu tak tersurat namun begitu menggeliat di hatimu
Biarpun orang bilang engkau selalu bekerja,
tapi itulah cara engkau mengekspresikan kasihmu...
Orang bilang engkau terlalu keras, sungguh mereka tak mengenalmu...
Orang bilang engkau tak perhatian, sungguh mereka tak mengenalmu
Biarlah semua itu ayah... aku lebih mengenalmu...
Ayah....
Nasihatmu, 
Ketika aku menangis, maka aku akan menangis sendirian
Ketika aku tersenyum, maka seisi dunia akan ikut tersenyum
Ketika aku kecewa, maka hati ini yang sakit sendiri
Ketikaaku legowo, maka hatiku tak kan pernah sakit
Ayah...

Ayah...
kan ku jaga nasihatmu
setiap nafasku
setiap langkah kakiku 
dalam relung hati...
Akan ku kobarkan semua impianmu
Hanya untuk menikmati senyummu 
Di ufuk senjamu 

Ayah...

Senin, 29 September 2014

Cinta di dalam gelas

Akhirnya ku temukan makna gambar di cover novel itu
Dua orang dibagian atas adalah A Ling dan Ikal. A Ling yang asli orang Tionghoa sebenarnya mudah dikenali dengan pakaian yang dikenakannya. Khas orang Tionghoa, merah meradang. Ikal dengan rupa mirip penulisnya sendiri memakai celemek karena cerita didalam novel sendiri yang mengisahkan penulis yang berjibaku dengan warung kopi, tepatnya "psikologi kopi".
Dua orang dibawah adalah maryamah atau lebih dikenal dengan panggilan Enong yang memakai cadar dan yang berambut pirang adalah Ninochka Stronovsky seorang grand master catur dunia - yang nantinya bakal menjadi guru jarak jauhnya Maryamah dalam ekspedisi pencaturan.
Cerita unik dibalik maryamah yang bercadar adalah karena dia yang menantang syariat dengan berkeinginan ikut pertandingan catur di acara tahunan 17 agustus nanti. Padahal saat itu catur adalah permainan orang-orang melayu laki-laki, hanya laki-laki, perempuan dilarang ikut campur. Maryamah menentang syariat. Bagaimana bisa seorang perempuan main catur? Ini adalah permainan laki-laki. Semua tokoh masyarakat menentangnya. Aku tertegun dengan alasan Modin menentang Maryamah "Alasanku menolak Maryamah adalah karena pertimbangan syariat. Tak perlu aku berpanjang-panjang dalih. Tak perlu kusitir ayat-ayat. Didalam islam, perempuan tak boleh berlama-lama bertatapan dengan laiki-laki yang bukan muhrimnya. Dalam pertandingan catur, hal itu akan terjadi, dan hal itu nyata melanggar hukum agama."
Maka kemudian disepakati Maryamah harus memakai cadar - burkak,bahasa melayu- dan ada kain merah sebagai hijab ditengah-tengah Maryamah dengan lawan tanding caturnya.  Sungguh keputusan yang apik dan bijaksana.


Novel Cinta di Dalam Gelas karya ANDREA HIRATA