Selasa, 02 Juni 2015

Malam Belum Usai

Malam ini dingin terasakan oleh kulit
Sisa hujan tadi  siang menyisakan embun-embun yang siap menyelimuti malam
Siap mendinginkan sayup malam
Membuat malam lebih terdiam
Malam begitu hanyut
Malam terasa seperti layaknya malam seharusnya
Sunyi. Senyap. Damai. Tenang.
Bukan seperti malam biasanya
Gemerlap. Terang. Gaduh.
Kali ini memang benar-benar malam yang menjadi kenangan
Bagi sedikit manusia seperti itu.

Malam ini tetap hampa
Jangkrik pun enggan berderik
Katak enggan bersorak menikmati sisa hujan
Manusia enggan pula berkeliaran menyapa malam
Kopi lebih mereka sukai
Selimut lebih terasa nyaman
Rumah lebih menarik perhatian
Entah malam kini terselimuti senyap
Dipeluk oleh kehampaan
Memandangi kekosongan
Berdampingan dengan kesunyian
Ditemani oleh ketenangan

Sunyi senyap
Hanya aku yang terdiam di dalam kurung kamar
Terjaga oleh hati yang gundah
Mencoba mengerti kata2 malam ini dengan baik
Tanpa melibatkan prasangka dan ego
Ya. Samua benar dan menyadari bahwa ego ini masih ikut campur
Malam pun ikut campur
Menghadirkan suasana pelik

Selasa, 28 April 2015

Menangislah...

Sinar terik kemarin telah terhapus oleh hujan tadi malam. Ternyata tak perlu menghujat panas, hanya perlu berdoa minta hujan. Betapa Allah Maha Segala Sesuatu.
Pagi ini redup tak seperti biasanya. Awan mulai melindungi bumi dari sinar matahari. Mereka dikuatkan oleh titik-titik air yang bergerombol yang berasal dari evaporasi di bumi. Cantik sekali pagi ini. Pagi pertama dimusim hujan. 

Aku melangkah untuk segera keluar rumah. Rumah yang insyaa Allah diberkahi, karena banyak penghafal alqur'an disini. Rumah yang insyaa Allah menjadi tempat tinggalku sementara ini. Tiba-tiba kaki ku berhenti. Pikiranku dipenuhi dengan rumah dan wajah ayah dan ibuku. Seketika itu dada ini sesak. Tak karuan rasanya. Kangen tapi tak bisa meluapkan kekangenan, sedih karena tak bisa bertemu, bingung jika bertemu dalam keadaan belum selesai studi, tak tega melihat mereka bekerja sangat keras, tak tega melihat mereka lelah, tak sanggup melihat mereka tersenyum manis, tak sanggup mendekap dipangkuan mereka dan berkata maaf. 

Aku mematikan motorku. Segera ku ambil HP di saku dan SMS rumah. Dan respon ibuku cepat sekali. Mungkinkah dia tau perasaan yang berkecamuk ini? Mungkinkah ibu merasakan hal yang sama?. Tiba-tiba air mata ini menetes tanpa seizinku. Langsung aku kenakan masker untuk menutupi perasaanku. Lalu aku start motorku dan melaju disepanjang jalan dengan air mata yang tak sanggup aku hentikan. Melankolis. Redup. Sayup. Aku merasa pagi ini aku ingin meluapkan tangisku sejadi-jadinya. Tak ku pikirkan orang-orang disampingku yang mendengar isak tangisku. Air mata ini sungguh tak mau berhenti. Aku tetap melaju motorku dengan tangis yang senyap disepanjang jalan. Tapi entah aku menikmatinya. Rasa sesak mulai menghilang. Aku mulai tenang. Menikmati perjalanan ke kampusku kembali dengan mengusap-usap sisa-sisa air mata di wajahku. 


12.10.2014